Sabtu, 10 Juni 2017

Kisah Para Penjaga Roh Ular Piton di Uganda



Dukun tradisional ini disebut dengan nama emandwa, yang berarti 'pria yang memiliki roh yang duduk di atas kepalanya'.
Di dekat sebuah hutan menakjubkan di pulau kecil di tengah Danau Victoria di Uganda, hidup seorang penjaga terakhir roh, yang mengambil bentuk ular piton.
Legenda tersebut telah ada selama beratus-ratus tahun yang lalu, di Kepulauan Ssese, sebuah kepulauan berpasir putih yang rimbun yang terdiri dari 84 pulau, dihuni oleh suku Abassese, ras manusia super yang dikenal bukan hanya karena tubuh yang besar dan kekuatan mereka tapi juga karena hubungan mereka dengan dunia supernatural.
Orang Abassese percaya dengan roh yang bernama Mbirimu, yang bisa berubah wujud dalam bentuk manusia atau binatang. Suatu hari, seperti cerita yang beredar, Mbirimu merasa kesepian, jadi dia berubah wujud menjadi seorang perempuan dan melahirkan dua makhluk, yaitu ular piton dan manusia.
Anak kembar laki-laki tersebut hidup di pulau Bugala, pulau terbesar di Kepulauan Ssese, dan yang berupa ular piton bernama Luwala.
Yang berwujud manusia membangun kuil untuk saudaranya piton, dan suku Abassese mulai memuja dan meminta wejangan dari Luwala.
Keterampilannya dalam menyelesaikan masalah sangat terkenal sehingga orang-orang dari tempat jauh datang meminta bantuan, dan saudaranya yang berwujud manusia bertindak sebagai penghubung antara mereka dengan sang ular piton. Dia menjadi dukun pertama dalam garis turun-temurun yang masih ada hingga kini.
Disebut emandwa, yang artinya 'pria yang memiliki roh yang duduk di atas kepalanya', dukun tradisional adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara dengan Luwala dan melaluinya semua permintaan diutarakan. Hanya satu emandwa yang ada dalam satu waktu dan dia harus dipilih oleh nenek moyangnya, dan mencurahkan seluruh hidupnya untuk Luwala.
Tertarik akan cerita rakyat dan sosok yang kuat tentang Luwala, saya datang ke Pulau Bugala -rumah bagi roh piton- untuk mencari emandwa.
Mudah untuk mencari Bugala yaitu dengan naik kapal feri selama beberapa jam dari Entebbe. Di sisi lain untuk menemukan emandwa hampir mustahil karena para pengunjung umumnya tidak boleh mengunjunginya, jadi permintaan saya dijawab dengan tatapan mata kosong dan tanpa petunjuk.
Baru saat malam harinya, setelah minum beberapa gelas bir dan makan beberapa ikan tilapia goreng di sebuah bar dengan walikota pulau tersebut, upaua pencarian saya bersambut.
Keesokan paginya, setelah duduk di sepeda motor yang melaju berkelok-kelok di jalanan berdebu di pulau tersebut yang dilanjutkan dengan jalan setapak sempit selama berjam-jam melewati semak-semak, akhirnya saya tiba di lokasi rahasia kuil tersebut.
Waktu saya tiba, seorang anak laki-laki menyambut dan memberi tahu bahwa roh piton tahu saya di sini tetapi para tetua harus diajak berunding terlebih dahulu sebelum saya dapat menemui emandwa.
Beberapa jam kemudian, permintaan diajukan dan izin diberikan, lalu datang emandwa tersebut. Dia tidak seperti yang saya bayangkan: dia naik sepeda motor tanpa iring-iringan besar, berpakaian seperti orang lain yang saya temui di pulau itu -memakai celana panjang, kemeja, dan sepatu bot plastik.
"Lubala Simon", katanya mengenalkan diri. Kemudian dia mengeluarkan pipa rokok bermanik-manik cerah dan mengisinya dengan tembakau.
"Anda duduk di rumah Luwala," Lubala Simon mulai, dengan dramatis membentangkan tangannya lebar. "Ini tempat roh ular piton hidup."
Saya melihat ke sekeliling kami, ini bisa saja di desa manapun, hanya ada sedikit perbedaan kecil. Dari kejauhan, sebuah api unggun dikelilingi tombak membara di sebelah pondok besar yang dikelilingi ornament. Suara terbungkam dan ada perasaan bahwa saya sedang duduk di tempat yang istimewa dan suci.
Lubala Simon menjelaskan perannya sebagai emandwa untuk Luwala melanggar tradisi karena dia tidak berada dalam garis keturunan roh ular piton, namun tak seorangpun dalam garis keuturuan itu yang cukup umur.
"Saya bertanya kepada nenek moyang saya dan para tetua dari roh bertanya kepada nenek moyang mereka, dan disetujui bahwa saya akan melakukannya. Saat roh ingin berbicara kepada saya, ia duduk di atas kepala saya dan berkomunikasi dengan saya melalui tubuh saya. Ada beberapa yang terpanggil untuk menjadi emandwa."
Banyak kisah yang ada tentang dukun-dukun ini, yang keagungan dan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan Luwala membuat mereka menjadi pemain penting dalam sejarah Afrika Timur dan Tengah.
Sesungguhnya, Kepulauan Ssese masih dianggap sebagai satu dari pusat-pusat spiritual di negeri tersebut. Berdasarkan legenda, salah satu dari kelompok suku terbesar yang sekarang disebut sebagai Uganda, yaitu suku Buganda, meminta seorang emandwa untuk menolong mereka mengalahkan suku Banyoro.
Emandwa memberi mereka tongkat istimewa bernama Damula untuk memenangkan pertarungan, yang terbuat dari pohon di pulau tersebut. Tongkat itu kini diwariskan di antara raja-raja Buganda.
Saya penasaran dengan pohon itu, yang disebut masih berdiri di salah satu hutan perawan yang tersisa di pulau tersebut. Buswa nama pohonnya, dan saya bertanya kepada Lubala Simon apakah saya boleh melihatnya. Dia menjelaskan butuh sekitar satu jam berjalan kaki ke sana.
Sewaktu kami berjalan, para penduduk desa menatap kami dengan terang-terangan dan semua orang menjaga jarak dari Lubala Simon yang tidak berbicara dengan siapapun. Kami ditemani beberapa pria berparang; para penjaga kami, yang tugasnya memantau penjahat di hutan.
Hutan Buswa mengecewakan ketika kami akhirnya tiba di sana karena hutan yang asli hampir punah berhubung kawasan tersebut disewakan untuk memproduksi minyak kelapa sawit oleh para tetua yang memerlukan pemasukan.
Pohon-pohon yang tersisa tidak terlihat menawan, tapi tampak seperti di hutan-hutan laina di pulau itu. Namun, saya bersikukuh untuk melihat pohon paling keramat ini.
Di lereng bukit, melalui lembah hutan kecil dan sungai, berdirilah pohon yang agung dan keramat. Pohon itu juga tampak hampir mati, batangnya berongga. Namun, Lubala Simon tetap berjalan mendekatinya, menyentuhnya dengan lembut, memandangnya dengan penuh takzim.
"Kami akan tetap menggunakan pohon ini, roh ular piton sudah menyiapkan pohon-pohon lainnya," katanya sambil pindah ke pohon yang lebih muda, yang mungkin menjadi bahan untuk membuat Damula berikutnya, jika ada orang yang memintanya lagi.
Bukan hanya pohon-pohon yang istimewa di sini. Lubala Simon mengumpulkan lumut dan dedaunan untuk obat-obatan selama dia mendapat ilham. Sungai yang baru saja saya lewati adalah sungai tempat Damula dicelupkan sebelum diserahkan kepada raja Buganda untuk mengalahkan lawan-lawannya: air sungai tersebut yang memberikannya kekuatan.
Tidak ada satwa yang bisa diburu di sini; pepohonan tidak bisa ditebang untuk arang; dan tidak seorang pun bisa datang tanpa izin dan tanpa penjaga. Namun hanya kurang dari satu kilometer persegi hutan perawan yang tersisa.
Saat berjalan pulang ke permukiman, Lubala Simon dan saya ditemani oleh anak laki-laki yang menyambut saya beberapa jam yang lalu. Dengan hati-hati dipilih oleh para tetua dan dorongan emandwa, dia bertindak sebagai pengiring roh ular piton.
Pekerjaannya adalah menjaga api agar tetap menyala selama 24 jam setiap hari karena jika apinya mati, roh tersebut merasa tak senang.
Dia memberi tahu saya bahwa dia tidur dengan pintu gubuknya yang terbuka lebar, dan ular piton keluar-masuk pada malam hari tak membuatnya merasa takut karena mereka hanyalah Luwala dan anak-anaknya.
Dia dan Lubala Simon mengajak saya ke kuil, sebuah pondok beratap rerumputan yang tinggi dengan asap mengepul dari pintu terbuka dan menyatu dengan asap yang mengepul dari perapian di depan pintu masuk. Saya melepas sepatu dan menunduk melewati pintu masuk yang rendah.
Dengan mata pedih, saya melihat Lubala Simon menjaga api, dikelilingi oleh mangkuk-mangkuk tembakau, manik-manik, kulit-kulit kerang, buah-buahan kering, biji-biji kopi, dan uang kertas.
"Sesajen, hadiah, pembayaran," katanya memegang masing-masing mangkuk di tangan-tangannya.
"[Orang-orang] meminta segala hal seperti keturunan, kekayaan, perlindungan. Kadang mereka menginginkan suatu hal buruk terjadi. Jika yang mereka inginkan sangat susah, maka mereka punya tugas yang harus dilakukan. Jika mereka melakukannya, mungkin Luwala akan mengabulkan permintaannya.
Kami keluar dari pondok, penuh dengan jelaga dan batuk-batuk karena asap.
Belakangan, salah seorang tetua berbicara kepada saya tentang artinya menjadi bagian dari garis keturunan yang menyusut. Banyak yang terpaksa pindah ke kota untuk bekerja atau meminjamkan mauoun menjual bangunan-bangunan suci karena tekanan keuangan.
Kehidupan modern berarti anak-anak tidak ingin lagi mengambil tugas sebagai emandwa, karena membutuhkan komitmen seumur hidup. Kepercayaan juga memudar: Kristen dan Islam adalah dua agama utama di pulau tersebut sedangkan pemujaan dewa-dewa tradisional dianggap sebagai keterbelakangan atau bahkan jahat.
Tetapi para tetua mengatakan bahwa itu adalah kesalahpahaman, dan Luwala tidak jahat, tetapi semata-mata 'roh, dan roh-roh yang memutuskan ingin seperti apa'.
Susah untuk mengetahui seberapa banyak orang masih memuja roh ular piton, karena keyakinan atas Luwala adalah praktik tertutup yang bahkan mengunjungi kuilnya saja bukanlah sesuatu yang dibahas dengan terbuka.
Namun, para tetua tetap mempertahankan kawasan kuil, menyelamatkan sepetak hutan yang mempesona, dan beralih ke dewa piton untuk mendapatkan petunjuk dalam segala hal.
"Kepercayaan kuno makin lama makin memudar. Tanah kami, tempat-tempat khusus kami, dan kami. Tetapi Luwala, roh piton dan nenek moyang kami, dia abadi. Dia ada di sini sebelum semuanya ada. Kami akan menjaganya selamanya juga." (sumber: BBC Indonesia) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar