Jumat, 09 Juni 2017

Kisah Doktor Tua yang Berkecimpung dalam Sampah


Seorang perempuan berusia 81 tahun yang membentuk tim pemungut sampah yang semua anggotanya perempuan di desanya di Lebanon sekarang kedatangan banyak tamu untuk mengetahui kiprahnya.
Selama sembilan bulan pada 2015 dan 2016 sampah menumpuk di jalan-jalan ibu kota Lebanon, Beirut, dan bahkan sekarang pun sampah perkotaan itu dibuang ke laut karena kekurangan tempat pembuangan sampah (TPS).
Karena kondisi tersebut, Zeinab Mokalled telah menunjukkan bahwa ketika pemerintah gagal maka prakarsa mandiri setempat dapat dilakukan.
"Sebelumnya ada sampah di mana-mana dan anak-anak dekil," kata Zeinab Mokalled.
Ia mengingat era tahun 1980-an dan 1990-an ketika Israel menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan selama 15 tahun, dan pemungutan sampah berhenti sama sekali di desanya, Arabsalim.
Semakin lama sampah menggunung dan Mokalled menemui gubernur setempat untuk meminta bantuan.
"Kenapa Anda peduli? Ini bukan Paris," kata sang gubernur kepadanya.
"Hari itu saya tahu saya harus berbuat sesuatu," ungkap Zeinab Mokalled
Ia lantas meminta warga perempuan di desanya untuk membantu. Pilihannya adalah perempuan bukan laki-laki. Pertama karena, ia ingin memberdayakan perempuan. Kedua, ia berpikir perempuan akan mengerjakan tugas secara lebih baik.
Mereka pula yang ditugasi memisahkan sampah daur ulang dan mungkin juga membuang sampah.

Tanpa modal

Zaenab Mokalled memerlukan bantua relawan untuk menyampaikan pesan kepada setiap warga perempuan di setiap rumah. Untuk tugas tersebut dalam masyarakat Muslim Lebanon di era pertengahan 1990-an, tidak pantas bagi laki-laki untuk melakukannya.
Jadi bagaimana mereka memulainya tanpa modal peralatan dan infrastruktur?
Teman Mokalled, Khadija Farhat membeli truk lori dengan uangnya sendiri. Mokalled menyulap halaman belakangnya menjadi tempat penampungan sampah yang bisa didaur ulang.
Kemungkinan besar warga desa yang berjumlah 10.000 jiwa tersebut bersedia membayar ongkos pemungutan sampah jadi para relawan menanggung biaya itu. Sembilan belas tahun kemudian, setiap anggota tim yang terdiri dari 46 orang menyumbang sekitar US$40 atau kurang lebih Rp600.000 per tahun.
"Daur ulang di tingkat rumah tangga merupakan jalan terbaik," ujar Mokalled yang menamakan timnya Call of the Earth atau Seruan dari Bumi.
Pada tahap awal, mereka mendaur ulang kaca, kertas dan plastik. Baru-baru ini mereka mulai mengumpulkan sampah barang-barang elektronik dan mempekerjakan seorang peneliti untuk mencari jalan terbaik membuat kompos dalam kondisi yang panas dan kering di Lebanon selatan.

Sopir laki-laki

Satu-satunya bantuan dari pihak berwenang setempat kepada tim pemungut sampah ini, setelah tiga tahun, adalah 300 tong sampah plastik dan sebidang tanah. Dengan demikian Mokalled dapat memfungsikan lagi halaman belakangnya sebagai halaman lagi.
Mereka juga menyewa truk di sampang truk yang dibeli oleh Farhat dan memperjakan sopir laki-laki, meskipun ia selalu ditemani oleh relawan perempuan.
Setelah 10 tahun beroperasi, tim relawan ini mendapat hibah dari Kedutaan Italia untuk membangun gudang.
Gudang ini sekaligus dijadikan sebagai ruang tamu oleh Mokalled. Berbagai kalangan, termasuk anak-anak sekolah, mahasiswa dan aktivis, datang ke sana untuk mempelajari cara kerja Call of the Earth.
Upaya untuk mencari tempat pembuangan sampah di Beirut penuh dengan halangan. Bagaimanapun, sampah tersebut harus dibuang jadi sampah kota dibuang di dekat bandara setempat namun langkah itu mengundang burung camar yang membahayakan lalu lintas udara.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah pembukaan kembali sampah lama. Selain sampah baru, truk-truk pengangkut sampah tampak membawa sampah lama dari gunung yang sebagian besar dilaporkan mengandung kimia dan membuangnya ke Laut Tengah.
Dalam jangka panjang, pemerintah mengatakan sampah akan dibakar untuk menghasilkan tenaga listrik. Namun kalangan kritikus khawatir langkah itu tidak akan dilakukan secara cermat, dan sampah plastik serta bahan-bahan lain yang berpotensi menimbulkan asap beracun akan terpendam bersama sampah organik.
Oleh karena itu, mungkin tidaklah mengejutkan jika skema daur ulang komunitas yang sederhana gagasan Zeinab Mokalled sekarang menarik perhatian.
Skema tersebut ditiru oleh warga perempuan di desa tetangga, Kaffaremen. Bedanya di Kaffaremen, pemungutan dan daur ulang sampah didanai oleh warga desa, bukan oleh relawan. Kota Jaarjoua juga mengikuti jejak Call of the Earth.
Selain memastikan Desa Arabsalim tetapi bersih dan rapi, Mokalled juga menyisakan waktunya untuk menempuh kuliah Kajian Arab untuk gelar PhD yang diraihnya ketika usianya 70 tahun.
Apa yang membuatnya merasa paling bangga?
"Menanamkan gagasan di pikiran orang bahwa menjaga Bumi adalah kewajiban kita di belahan dunia ini. Apakah kita melakukannya atau tidak, para politikus kita tidak peduli. Itu tergantung pada kita.
"Jika semua orang melakukan apa yang kita lakukan di Arabsalim, maka tidak akan timbul masalah sampah di mana pun di Lebanon." (sumber: BBC Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar