Selasa, 06 Juni 2017

Kisah Jokowi Menyetir Mobil "Indonesia"




Jika diibaratkan, Indonesia adalah mobil yang sangat besar. Penumpangnya banyak dan berbeda-beda satu sama lain.
Jalan yang dilaluinya pun terjal, penuh lubang dan berbatu. Sebagai seorang 'sopir', Presiden Joko Widodo harus berhati-hati betul membawa mobil tersebut supaya seluruh penumpang selamat sampai tujuan.
Filosofi inilah yang terus diresapi Presiden Jokowi. Maka, tak heran jika Jokowi yang sudah hampir 13 tahun tidak menyetir mobil, sering sekali menjadi sopir 'boogey' di Istana, baik di Jakarta atau di Bogor.
"Supaya enggak lupa," ujar Jokowi ketika tim Kompas.com mewawancarainya di Ruang Oval, Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (5/6/2017).
Rabu (26/10/2016) misalnya. Dengan menggunakan 'boogey', Jokowi ' mengangkut' Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dan Ketua DPD RI kala itu, Muhammad Saleh.
Rabu (1/4/2017), Presiden Jokowi kembali menjadi sopir. Kali ini, ia 'mengangkut' Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis al-Saud.
Menjadi 'sopir' atas 'mobil' bernama Indonesia, diakui Jokowi, tidak mudah. Pertama-tama, Indonesia merupakan negara besar. Dari sisi geografis, total luas Indonesia mencapai 5,1 juta kilometer persegi dengan bentang alam beraneka ragam mulai dari laut hingga daratan.
Suku yang menghuni luas wilayah itu sebanyak 714. Masing-masing suku memiliki bahasa yang berbeda-beda. Bahkan, satu suku saja memiliki sub-bahasa yang berbeda-beda. 1.100 bahasa lokal, jumlahnya.
Tak berhenti sampai di situ, penduduk Indonesia menganut agama yang berbeda pula. Selain Islam sebagai agama paling banyak dianut oleh penduduknya, ada pula Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan aliran kepercayaan lainnya.
"Jadi, saya kira ini adalah takdir yang diberikan Allah kepada kita. Kodrat yang diberikan kepada bangsa Indonesia, ya beragam. Ini sudah menjadi hukum Allah yang patut kita syukuri," ujar Jokowi.
Namun, mengelola keberagaman itu pada perjalanannya dihadapkan pada sejumlah tantangan.
Belakangan, muncul fenomena yang mengarah ke perpecahan. Mulai dari penyebaran ujaran kebencian hingga fitnah. Dari munculnya berita 'hoax' hingga aksi kekerasan. Dari intoleransi hingga terorisme. Itu semuanya mewarnai Indonesia yang kini memasuki usia ke-72.
"Maka, yang paling penting adalah kesadaran bahwa kita ini beragam," ujar Jokowi.
Lebih jauh, Jokowi berpendapat bahwa tantangan itu merupakan bagian pembelajaran bagi bangsa Indonesia.
"Ya biasalah, kita menyetir mobil pun sama. Kadang berbelok, kadang menikung, kadang ada lubang kecil yang harus kita hindari, sama kayak kita menyetir saja," ujar Jokowi.
Kunci melewati tantangan itu, tidak lain adalah taat kepada 'rambu-rambu' yang ada.
"Yang paling penting kan aturan hukum, konstitusi, itu yang betul-betul kita pegang. Artinya kalau ada lampu merah ya berhenti. Lampu hijau jalan. Ada tanda dilarang berhenti, ya jangan berhenti," ujar Jokowi.
Soal memperlakukan 'penumpang mobil' pun demikian. Bagi mereka yang masih bisa diajak musyawarah soal tujuan berbangsa serta bernegara, Jokowi mengatakan, tidak ada soal.
Namun, jika sudah ada 'penumpang' yang mengusik dasar negara, pemerintah tidak akan memberi toleransi lagi.
"Jika ada yang anti-Pancasila, anti-UUD 1945, anti-kebinekaan, anti-NKRI, beda soal itu. Untuk hal mendasar, saya tidak ada kompromi. Tidak ada toleransi dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," ujar Jokowi.
"Tujuan kita jelas seperti yang tertuang dalam konstitusi, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan berbangsa dan seterusnya. Saya kira itu sangat jelas," lanjut dia. (bpp/kpc)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar