Rabu, 18 Oktober 2017

Kisah Mata Mata Mata Hari yang Pernah Tinggal di Indonesia




SEBUAH kendaraan abu-abu milik militer Perancis bertolak dari penjara Saint-Lazare di Paris pada waktu pagi, 15 Oktober 1917.
Di dalamnya, selain dua biarawati dan pengacara, terdapat seorang perempuan Belanda berusia 41 tahun yang mengenakan jubah panjang dan topi lebar.
Satu dekade sebelumnya, perempuan ini bersentuhan dengan orang-orang penting di berbagai ibu kota negara di Eropa.
Berkat keterampilannya dalam menari, “perempuan maut”  ini mampu menggaet beragam kekasih, termasuk menteri, pebisnis kaya, dan jenderal.
Dunianya berubah ketika Eropa dilanda Perang Dunia I. Dia mengira dirinya bisa bertahan di Eropa dengan mengandalkan karisma. Namun, para pria berkuasa menginginkan sesuatu darinya yang lebih dari sekadar hubungan seks. Mereka menghendaki informasi.
Dan itu berarti spionase, mata-mata.
Perempuan tersebut adalah Mata Hari. Kereta yang bertolak dari penjara Saint-Lazare pada 15 Oktober 1917 membawanya kepada regu tembak. Ajal menantinya.
Kejahatannya antara lain menjadi agen mata-mata Jerman serta mengorek rahasia dari para perwira Sekutu yang menidurinya dan meneruskan informasi itu ke bosnya.
Tuduhan itu menuntun sejumlah surat kabar untuk berkesimpulan bahwa dia bertanggung jawab atas pengiriman ribuan serdadu Sekutu menuju kematian.
Akan tetapi, bukti-bukti yang diperlihatkan saat pengadilan, ditambah beberapa dokumen lainnya, menunjukkan bahwa dia sejatinya agen ganda dan kemungkinan mati sebagai kambing hitam.
Titik terang
Kini, 100 tahun setelah kematian Mata Hari, muncul sebuah titik terang yang dapat menjelaskan keterlibatan perempuan tersebut dalam Perang Dunia (PD) I.
Titik terang itu datang dalam wujud berbagai dokumen yang dirilis Kementerian Pertahanan Perancis, termasuk transkrip interogasi Mata Hari oleh dinas antispionase Perancis pada 1917.
Ada pula surat-surat telegram yang dikirimkan atase militer Jerman di Madrid ke Berlin yang berujung pada penangkapan Mata Hari di sebuah hotel di Champs-Elysees, Paris.
 Belakangan surat-surat tersebut menjadi bukti kunci dalam persidangannya.
Beberapa dokumen itu kini dipamerkan di museum Fries, Leeuwarden, Belanda—kampung halaman Mata Hari.
Lahir dengan nama Margarethe Zelle pada 1876, Mata Hari mengalami kehidupan luar biasa sekaligus tragis.
Setelah menikah dengan perwira Belanda keturunan Skotlandia, Kapten Rudolf Macleod, Zelle hijrah ke Malang, Jawa Timur, pada 1897 yang saat itu masih menjadi daerah kekuasaan Hindia Belanda.

Pernikahan itu tak berjalan langgeng dan berakhir dengan perceraian.
Selanjutnya dia bertolak ke Paris dan menamai dirinya dengan sebutan Mata Hari sebagai nama panggung untuk pertunjukan menari bergaya erotis.
"Kalaupun dia tidak menjadi mata-mata, Mata Hari akan dikenang sampai sekarang atas apa yang dia lakukan di kota-kota besar Eropa pada bagian awal abad lalu," kata Hans Groeneweg, kurator museum Fries.
"Sedikit banyak dia menciptakan striptis sebagai bentuk tarian. Kami memamerkan bukti-bukti pertunjukannya dan ada tumpukan kliping surat kabar beserta foto-foto. Saat itu dia merupakan selebritis sosialita," tambah Groeneweg.
Namun, sedihnya, cerita mengenai Mata Hari didominasi oleh kiprahnya dalam dunia mata-mata. Selama betahun-tahun banyak sejarawan membelanya.
Beberapa di antara mereka menilai dia dikorbankan karena Prancis memerlukan mata-mata untuk menjelaskan ke publik tentang kegagalan dalam perang.
Bagi kaum feminis, Mata Hari menjadi kambing hitam yang sempurna karena “moralnya yang buruk” akan membuat dirinya mudah dicap sebagai musuh Perancis.
Mata Hari hanyalah korban?
Mata Hari diketahui kembali ke Prancis melalui Spanyol pada 1916 setelah singgah sebentar di London untuk diinterogasi dinas intelijen Inggris, MI6.
Di Madrid, dia menjalin kontak dengan Arnold von Kalle, atase militer Jerman.
Belakangan Mata Hari mengaku aksinya ini ditempuh untuk memenuhi janjinya kepada intelijen Perancis, bahwa dia akan menggunakan jaringan perwira Jerman yang dia kenal sebelum perang demi membantu Sekutu.
Namun, telegram yang dikirim Kalle ke atasannya di Berlin yang membongkar identitas agen H21 alias Mata Hari.
Dalam surat telegram itu, Kalle membeberkan alamat rumah, rekening bank, hingga nama pembantu setianya. Siapapun yang membacanya tak akan ragu bahwa agen H21 adalah Mata Hari.
Terjemahan resmi surat telegram, yang dihadang oleh dinas intelijen Perancis itu kini dapat disaksikan publik di Museum Fries, Leeuwarden, Belanda.
Bagaimanapun, justru hal inilah yang membuat kalangan sejarawan sangsi pada tudingan terhadap Mata Hari.
Intelijen Perancis, menurut beberapa sejarawan, sejak lama mampu memecahkan bahasa kode di dalam tulisan surat telegram tersebut. Jerman pun tahu intelijen Perancis sudah bisa memecahkannya. Toh, Kalle tetap mengirimkannya ke Berlin.
Dengan kata lain, Kalle ingin intelijen Prancis membacanya.
Jadi, asumsi ini berpendapat bahwa Jermanlah yang menuntun Perancis untuk menangkap dan mengeksekusi agennya sendiri.
Asumsi lain menilai Perancis yang menciptakan dokumen itu untuk mengambinghitamkan Mata Hari dan memuaskan publik.
Pasalnya, mengapa hanya ada terjemahan resmi? Di mana telegram aslinya?
Kedua teori itu sama-sama berpandangan bahwa Mata Hari hanyalah korban, sedangkan Jerman atau Prancis ingin agar dia dilenyapkan.
Rincian interogasi
Selama bertahun-tahun, rincian interogasi Mata Hari oleh jaksa Pierre Bouchardon tidak bisa diakses para sejarawan.
Namun, berkat dokumen yang dirilis Kementerian Pertahanan Perancis, asumsi mengenai Mata Hari bisa dipatahkan.
Berdasarkan transkrip interogasi pada Juni 1917, Margarethe Zelle memutuskan untuk mengakui perbuatannya.
Kepada Bouchardon, dia mengaku telah direkrut Jerman sebagai mata-mata pada 1915 di Den Haag, Belanda.
Keputusannya itu dilatarbelakangi keputusasaan untuk bisa kembali ke Paris pada awal perang.
Karl Kroemer, konsul Jerman di Amsterdam, menyanggupi mengirimnya ke Paris, asalkan dia bisa menyediakan informasi secara berkala. Sejak saat itulah Agen H21 diciptakan.
Mata Hari berkeras bahwa dirinya hanya ingin mengambil uang yang ditawarkan kemudian lari.
Dia mengklaim bahwa kesetiaannya ada pada Sekutu, sebagaimana dia tunjukkan saat berjanji membantu intelijen Perancis.
Pengakuan tersebut malah membawanya ke Chateau de Vincennes di pinggiran timur Kota Paris. Mata Hari dituntun ke sebuah tiang di tanah lapang dengan satu tangan terikat.
Sebanyak 12 serdadu mengarahkan senjata api mereka ke tubuhnya.
Beberapa laporan menyebut bahwa dia menolak matanya ditutup. Dia sempat melambaikan tangan ke pengacaranya.
Sesaat kemudian suara letupan senapan terdengar dan Mata Hari jatuh terpuruk dengan lutut menghujam tanah.
Seorang perwira mendekati sambil menenteng pistol dan menembaknya sekali di bagian kepala.
Sesudah eksekusi, tiada seorang pun yang mengambil jasad Mata Hari.
Karenanya, jenazah perempuan tersebut dibawa ke fakultas kedokteran di Paris untuk digunakan sebagai bahan mata kuliah pembedahan.
Kepalanya kemudian diawetkan di Museum Anatomi. Namun, ketika dilakukan inventaris 20 tahun lalu, ternyata organ tubuh itu telah menghilang. (sumber:kompas.com/BBC Indonesia)

Sabtu, 14 Oktober 2017

Kisah Seorang Pengemudi Marah Marah, Nggak Tahunya yang Dimarahi Polisi




Seperti yang terjadi dalam postingan seorang netizen pengguna akun jejaring sosial Facebook, Ngurah Adi.
Dalam postingan pada 7 Oktober 2017 itu, Ngurah Adi mengisahkan peristiwa yang diketahui terjadi di Bali.
Tepatnya, peristiwa itu terjadi di Jalan Kuta mau ke Beachwalk, Bali.
Seorang pria pengemudi mobil marah-marah ditegur pesepedamotor saat asyik bermain ponsel saat menyetir.
Maklum, ulah pengemudi mobil jenis Avanza berwarna putih tersebit membuat kemacetan arus lalu lintas.
Ketika ditegur, si pengemudi langsung berhenti di tengah jalan dan memanggil pesepeda motor yang menegurnya.
Sempat marah kepada penegurnya, si pengemudi mobil langsung berkata kasar dan menantang yang bersangkutan.
Tapi, si pengendara mobil syok ketika penegur bersepeda motor itu membuka jas hujan yang dikenakannya.
Siapa sangka, dia adalah seorang personel kepolisian, seragam dinasnya tersembunyi di balik jaket.
Berikut postingan lengkap Ngurah Adi:
Jadi ceritanya begini : mobil Avanza putih yang di kendarai bapak (baju hitam)tengah bermain HP sedang menyetir dan di tegur polisi untuk jalan karena membuat kemacetan.
Pada saat ditegur, dia berhenti di tengah jalan dan memanggil bapak polisi itu.
Awalnya, bapak baju hitam tersebut tidak tahu bahwa yang menegur itu bapak polisi karena bapak itu menggunakan jas hujan.
Dan ketika dia berhenti di tengah jalan, dia memanggil pak polisi itu dan pak polisi itu balik arah utk mencari dia.
Nah bapak baju hitam sudah masang muka marah dan dengan hebatnya berhenti di tengah jalan untuk berbicara agak kasar dengan bertanya, “Maumu apa ????” Seakan tidak terima.
Dan ketika buka jas hujannya dia kaget karena yang ditanya adalah seorang polisi.
Saya sangat kecewa dengan bpk baju hitam tersebut.
Karena polisi itu benar bahwa tidak boleh bermain HP saat sedang mengemudi itu.
Dan, saya salut dengan bapak polisi tersebut.
Karena di saat hujan, dia msh bisa tugas dan menyempatkan waktu untuk berhadapan dengan bapak baju hitam tersebut.
Saran saya kita di sini semua wajib bayar pajak kenapa tidak biarkan saja polisi itu hanya menegur.
Saya kira tidak perlu untuk sampai mencari orang tersebut.
Jalan itu milik masyarakat, aparat, dan lain-lain.
Mari kita ramah di jalan dan dimanapun kita berada
Kejadian ini di Jalan Kuta mau ke Beachwalk Bali.
Hingga berita ini disusun, postingan Ngurah Adi menghimpun 6.375 komentar dan dibagikan 10.012 netizen.
Berikut video yang diunggah Ngurah Adi:
(bpp/tnc)

Kamis, 28 September 2017

Kisah Pria Ini Viral: Dulu Dibuang Orangtua di Jalanan, Kini Jadi Miliuner




Kisah pria kaya raya dari Filipina ini telah tersebar viral karena masa kecilnya yang menyedihkan. 
Fernando Kuehnel ingat bagaimana orang tuanya meninggalkan dia dan saudara laki-lakinya karena alasan yang tak ia ketahui - tapi itu baru permulaan ceritanya.
Pada tahun 1974, ketika dia berusia 8 tahun, ibu Kuehnel meninggalkan dia dan adik laki-lakinya di jalanan Kota Quezon di Filipina.
Dia menulis bahwa dia "merasa seperti popok sekali pakai, dibuang setelah kotor dipakai."
"Mereka menemukan kami di jalan, kami bertiga. Mereka membawa kami ke panti asuhan. Saya ingat membawa tas pasangan itu, kami menangis, "katanya.
Kemudian, tinggal di panti asuhan kedua, Nayong Kabataan, juga tidak mudah.
Dia dan saudara-saudaranya diintimidasi.
"Mereka melakukan hal-hal seperti itu, mereka menaruh cabai di mata saat Anda bangun, atau bibir atau organ tubuh Anda," katanya.
Dia dan saudara laki-lakinya hampir menyerah pada kehidupan setelah mereka ditinggalkan di panti asuhan.
Mereka mencoba menghubungi ibu mereka, yang sekarang memiliki keluarga baru, tapi mereka ditolak dan diusir pergi.
Pada usia sangat muda 10 tahun, Fernando mulai mengumpulkan dan menjual sampah bersama saudara kandungnya, sambil makan dari tempat sampah hanya untuk bertahan hidup.
Itu sampai berita adopsi datang, dan mereka dipilih untuk dibawa ke Wisconsin.
"Jadi, mereka akan diadopsi, hanya mereka berdua, dan kemudian satu anak dari panti asuhan mencari saya, dia berkata: Saudara laki-laki Anda akan pergi dan diadopsi, jadi lebih baik kembali, jadi saya pergi kembali ... aku tidak bodoh kan? Saya kembali, " katanya.
Tapi sama seperti orang tua pertama mereka, orang tua kedua mereka memutuskan untuk mengembalikan mereka ke panti asuhan.
Mereka ditinggalkan untuk kedua kalinya.
Sampai kemudian pasangan Kuehnels datang dan mengadopsi mereka. Di titik inilah hidup mereka berubah.
Oleh orangtua angkatnya, Fernando naik bis selama satu jam hanya untuk mengikuti kelas ESL (Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua) di Greenbay, Wisconsin untuk belajar bahasa Inggris.
Dia lulus dengan gelar sarjana keperawatan dan predikat summa cum laude dalam administrasi bisnis di bidang kesehatan.
Saat ini, ia adalah ilmuwan klinis raksasa farmasi Novartis. 
Mobilnya adalah Porsche terbaru.
Fernando menulis tentang perjalanan hidupnya dari panti asuhan menuju impian ala Amerika, dalam sebuah buku berjudul "Orangtua Ketiga Saya".
 "Anda harus menentukan apa kesuksesan yang cocok untuk  Anda. Tidak harus jutaan dolar. Saya beritahu anak-anak saya, tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Anda hanya tidak akan menyukai solusinya, tapi masalahnya bisa dipecahkan. Ingatlah ini, Anda harus bekerja keras, " nasihatnya.(sumber: tribunenews,com)

Jumat, 22 September 2017




Kantor Kejaksaan Swis di Geneva turun tangan untuk menyelidiki mengapa sejumlah lembaran uang kertas euro yang setara dengan uang ratusan juta rupiah menyumbat pipa toilet.
Lembaran uang pecahan 500 euro atau sekitar Rp 8 juta pertama kali ditemukan beberapa bulan lalu di sebuah toilet kantor cabang Bank UBS.
Letak toilet itu berada di dekat ruangan brankas yang menyimpan ratusan kotak penyimpanan barang berharga.
Beberapa hari kemudian, sebagaimana dilaporkan Tribune de Geneve, lembaran-lembaran serupa ditemukan menyumbat toilet di tiga restoran dekat bank tersebut.
Untuk membuka sumbatan, tukang sedot WC dipanggil dan biayanya mencapai ribuan franc Swiss.
Secara keseluruhan, Polisi Swis menemukan puluhan ribu euro yang sebagian besar di antaranya dalam keadaan seperti telah dipotong dengan gunting.
Merusak uang bukanlah pelanggaran di Swiss, namun kantor kejaksaan menegaskan mereka tengah mencari penyebab uang-uang itu berada saluran toilet, dan dalam keadaan telah dipotong.
"Kami sedang mencoba mencari tahu dari mana uang-uang ini berasal dan apakah tindak kejahatan telah dilakukan."
Demikian dikatakan Vincent Derouand dari Kantor Kejaksaan Geneva kepada BBC.
"Jelas, kasus ini sangat mengejutkan," kata dia.
Derouand enggan berkomentar atas pemberitaan yang menyebutkan bahwa seorang pengacara telah diinterogasi terkait kasus tersebut.
Uang pecahan 500 euro, menurut rencana akan ditarik dari peredaran pada 2018 mendatang, lantaran Komisi Eropa menengarai pecahan tersebut dipakai memfasilitasi tindakan ilegal.
Sampai tahun depan, pecahan 500 euro masih sah dan berlaku untuk transaksi. Namun, Bank Sentral Eropa akan berhenti memproduksinya. (sumber; bbc)

Kamis, 07 September 2017

Kisah Daniel Taylor Mencari Yeti di Pegunungan Himalaya




Ketika seorang penjelajah Inggris, Eric Shepton, mencari rute baru menuju Gunung Everest pada tahun 1951, dia menemukan sebuah jejak kaki yang aneh dan menyerupai kaki hominoid.
Jejak kaki tersebut terletak di gletser Menlung, sebelah barat Gunung Everest, perbatasan Nepal dan Tibet; dan tampak seperti telapak kaki manusia, tetapi dengan jempol. Ukurannya pun cukup besar, sekitar 33 sentimeter.
Tergelitik dengan penemuan tersebut, Shepton kemudian memotretnya dan memulai demam Yeti di seluruh dunia.
Daniel Taylor adalah salah satu yang terpesona oleh misteri Yeti. Dia pertama kali menemukan foto ikonis Shepton di sebuah majalah dan terkejut ketika seorang kurator di Museum Inggris yang dikutip berkata bahwa jejak kaki tersebut adalah milik monyet langur.
“Aku mengatakan, ‘Ini tidak masuk akal, aku tahu monyet langur yang melompat-lompat di atas genteng setiap saat. Yang membuat jejak kaki misterius seperti manusia ini pasti hewan lain.’,” ujarnya menceritakan kepada National Geographic 19 Agustus 2017.
Jejak kaki Yeti yang diabadikan oleh Eric Shipton
Jejak kaki Yeti yang diabadikan oleh Eric Shipton(Eric Shipton/Topical Press Agency)
Sejak saat itulah, Taylor memulai petualangannya mencari Yeti di pegunungan Himalaya. Petualangan tersebut berlangsung selama 60 tahun hingga akhirnya dia menemukan identitas Yeti yang sebenarnya di Lembah Barun.
Memiliki iklimnya sendiri, Lembah Barun adalah hutan padat yang terus-menerus diguyur hujan. Tidak ada seorang pun yang tinggal di sana dan warga lokal yang tinggal di pinggiran Lembah Barun pun tidak berani masuk, kecuali terpaksa.
“Aku diberitahu oleh Raja Nepal yang berkata bahwa bila aku ingin ke tempat paling liar di mana Yeti mungkin berada, maka aku harus pergi ke Barun. Dan jika Raja (Nepal) berkata begitu, maka Anda harus pergi ke sana karena dia benar-benar mengenal kerajaannya,” kata Taylor.
Benar saja. Dengan segera, Taylor menemukan jejak kaki yang sama persis dengan di foto Shepton ketika memasuki Lembah Barun. Dia mengatakan, aku sudah melihat jejak kaki ini sebelumnya, tetapi yang kutemukan masih baru dan aku yakin bahwa aku telah menemukan Yeti.
Seorang pemburu lokal yang bersama Taylor pada saat itu kemudian memberitahukan bahwa yang mereka temukan adalah jejak kaki beruang pohon.
“Seekor beruang yang hidup di pohon akan memaksa salah satu jari untuk menyerupai jempol. Beruang biasa tidak bisa meniru cengkeraman tersebut, tetapi jika Anda menghabiskan banyak waktu di pohon, Anda akan melatih satu jempol untuk memegang dahan atau mematahkan bambu,” kata Taylor menjelaskan.
Taylor lalu menghabiskan dua tahun untuk mencari tahu mengenai spesies beruang berjempol yang ada di daerah tersebut. Dia menjatuhkan pilihannya pada beruang hitam Asia, yang kemudian semakin dikukuhkan oleh penelitian DNA.
Beruang hitam Asia yang difoto di Kamla Nehru Zoological Garden, Ahmedabad, India.
Beruang hitam Asia yang difoto di Kamla Nehru Zoological Garden, Ahmedabad, India.(JOEL SARTORE, NATIONAL GEOGRAPHIC PHOTO ARK)
Ceritanya, seorang profesor di Oxford University bernama Bryan Sykes membuat sebuah pengumuman global. Dia meminta agar artefak-artefak Yeti, mulai dari rambut, kuku, hingga tulang, dikirim dari seluruh dunia untuk dianalisis.
“Mayoritas dari artefak-artefak tersebut berasal dari beruang atau domba, kecuali dua di antaranya yang tampak seperti spesies beruang, tetapi belum dikenal oleh manusia,” kata Taylor.
Setelah Sykes memublikasikan penelitiannya, mitos mengenai Yeti kembali ramai diperbincangkan, dan sekelompok siswa memutuskan untuk menguji caranya mengurutkan DNA.
Ternyata, Sykes melakukan kesalahan. Apa yang diteliti oleh Sykes tidak berasal dari spesies baru, melainkan merupakan urutan DNA yang tidak lengkap dari hewan yang sudah diketahui selama ini, yaitu beruang.
Kini, Taylor telah siap untuk menutup petualangannya mencari Yeti. Di samping merasa telah mengungkap identitas Yeti yang sebenarnya, dia juga menemukan "alam liar terbaik di planet bumi”. Bersama-sama dengan warga lokal, Taylor berusaha untuk melindungi alam Lembah Barun dengan membuat jejak Yeti yang bisa dilalui oleh turis.
Taylor pun menuturkan kisahnya dalam buku terbarunya yang berjudulYeti: The Ecology of a Mystery. (sumber:kompas.com)

Rabu, 06 September 2017

Kisah Mahasiswa Korea Tertarik Kuliah di UMM



Prestasi internasional yang diraih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah membuka jalan bagi Songhyun Kim untuk menjadi mahasiswa baru di kampus ini. Mahasiswa asal Busan, Korea Selatan ini mengenal UMM salah satunya melalui prestasi Paduan Suara Mahasiswa Gita Surya UMM saat menjuarai Choral Busan Festival and Competitionempat tahun lalu di Korea Selatan.
“Iya, saya pernah tahu kelompok paduan suara UMM pernah juara lomba di Busan. Ini bagus sekali, bisa memenangkan kompetisi itu. Padahal sulit sekali,” kata Kim sambil mengacung-acungkan jempolnya.
Selain karena prestasi itu, Kim mengaku juga mendapatkan rekomendasi dari seniornya di Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan. Saat itu seniornya di BUFS pernah mendapatkan beasiswa Darmasiswa RI di salah satu kampus di Malang.
“Saya direkomendasikan oleh senior saya untuk belajar di UMM. Dulu dia juga belajar di Malang, tapi bukan di UMM. Tapi saya disarankan untuk belajar di UMM. Katanya UMM bagus,” ujar mahasiswa yang sebelumnya mengambil program studi Indonesia-Malaysia di BUFS ini.
Ketika pertama kali datang ke kampus ini, Kim mengaku langsung menyukai UMM, karena keramahan orang-orangnya dan kesejukan udaranya. “Banyak orang baik di sini. Saya belum keliling semua kampus, tapi saya suka danaunya, sejuk. Bagus sekali kampusnya,” kesan Kim.
Menariknya, Kim bertekad tak mau berbicara dalam bahasa Inggris maupun bahasa Korea selama di Indonesia. Ia akan berusaha berbicara bahasa Indonesia. "Ya, saya harus bicara bahasa Indonesia," tekadnya sambil tersenyum lebar. (humas UMM)

Selasa, 29 Agustus 2017

Kisah Asmara JK dan Mufidah dalam Puisi




Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenang kembali masa-masa awal berpacaran dengan istri, Mufidah Kalla, puluhan tahun silam. Pria kelahiran Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan 15 Mei 1942 itu menceritakan kembali kisah sulitnya menggaet hati Mufidah yang disebutnya jinak-jinak merpati.

Semua curhatan dan nostalgia JK itu dia utarakan lewat puisi yang ia tulis sendiri. Puisi itu berjudul Setengah Abad yang Indah dan menjadi kado untuk pernikahan dengan Mufidah yang sudah berusia 50 tahun, Jumat pekan lalu (25/8).

JK muda jatuh hati pada kesederhanaan Mufidah, adik kelasnya sewaktu di SMA. Namun, kerasnya hati Mufidah membuat JK harus berjuang ekstra keras untuk mendapatkannya.


Bahkan di tengah perjuangannya meraih cinta, JK kerap harus dibuat berlapang dada dengan beberapa penolakan Mufidah ketika hendak pergi berkencan. Misalnya ketika Mufidah enggan dibonceng JK dengan Vespa miliknya. Atau ketika Mufidah menolak berduaan dengan JK ketika kencan, sebab sang kekasih selalu membawa 'paspampres' yang tak lain adiknya.

"Engkau seperti jinak-jinak merpati, sama dengan nama jalan di depan rumahmu. Kemana-mana kau dikawal oleh adik adikmu kayak paspampres saja," kata JK dalam puisinya.
"Walaupun aku punya vespa tapi kamu enggak pernah mau dibonceng. Selama tujuh tahun kita hanya sekali nonton bioskop, itupun dengan teman-temanmu, sehingga untuk bisa memegang tanganmu saja sangat sulit."

Lulus SMA pun JK kuliah sembari bekerja dengan menyesuaikan waktu agar bisa bertemu dengan Mufidah yang juga kuliah sambil kerja. JK bahkan rela menjadi asisten dosen di kelas Mufidah tanpa dibayar sepeser pun. Semua demi melihat senyum Mufidah.

"Sekali seminggu aku minta menjadi asisten dosen dan mengajar di kelasmu tanpa honor. Semua itu agar bisa bertemu denganmu dan melihat senyummu," ujar JK.
Meski begitu, JK tetap teguh hati dan yakin bawha semua usahanya akan berakhir manis. Dan itu terbukti ketika lamaran orang tuanya diterima oleh orang tua Mufidah. Mereka pun menikah meski dengan dua adat yang berbeda, Bugis dan Minang.

JK sadar diri bukan pria yang romantis. Sebagai orang Bugis dengan adat yang keras, ia tak pandai merangkai kata-kata cinta. Namun JK mencintai Mufidah dengan segala kesederhanaannya lewat tindakan dan perbuatan. Semua itu tercermin selama 50 tahun JK dan Mufidah mengarungi bahtera rumah tangga.

"Karena itu aku minta maaf kepadamu, karena selama 50 tahun aku tak pernah memberi bunga sambil berucap I love you," ujar JK. (cnni
)