Jumat, 12 Mei 2017

Kisah Pilu 10 Anak Buleleng yang Harus Dropout dari SD





Sebanyak 10 siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) di Dusun Kaje Kauh, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng tidak dapat menyelesaikan jenjang pendidikannya alias di-drop out.
Salah satu faktor penyebabnya tidak lain adalah untuk memperbaiki kebutuhan ekonomi keluarga.
Mereka terpaksa absen dari sekolah dan lebih memilih untuk membantu orangtua bekerja, ketimbang harus mengenyam pendidikan di bangku sekolah.
Kepala Dusun Kaje Kauh, Nyoman Kerta Masiada menyebutkan total jumlah pelajar yang putus sekolah di daerah tersebut, dari tahun 2013 hingga Mei 2017 sebanyak 10 anak.
Pelajar putus sekolah itu terjadi rutin setiap tahun, dan status mereka seluruhnya adalah siswa yang di DO.
"Rata-rata mengenyam pendidikan di SDN 4 Sudaji. Mereka drop out karena terlalu sering absen dari sekolah. Alasannya ya paling banyak karena disuruh bantu-bantu orangtua bekerja di ladang," katanya beberapa waktu lalu.
Diakui Masiada, berbagai upaya  sejatinya telah sering ia dilakukan.
Salah satunya, bekerja sama dengan pihak sekolah melakukan upaya pendekatan kepada pihak keluarga agar menomor satukan sekolah.
Nahas, bukannya mendapatkan dukungan, langkah yang ditempuh oleh Masiada justru mendapat kecaman dari para orangtua siswa.
"Ya para orangtua siswa menuding kalau saya dan pihak sekolah sengaja menghalang-halangi keinginan siswa untuk memperbaiki perekonomian keluarga," keluhnya. 
Hal senada juga diungkapkan Kepala Sekolah SDN 4 Sudaji, Nyoman Mertana.
Ia mengatakan, permasalahan yang selama ini dialami oleh siswa sehingga pihaknya terpaksa melakukan drop out adalah kurangnya kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan.
Faktor itulah yang membuat para orangtua lebih cenderung menyuruh sang anak bekerja ketimbang bersekolah.
"Biar sudah ada program pendidikan gratis, hingga beasiswa bagi siswa miskin, kebutuhan tambahan ini lah yang membuat anak-anak jadi berhenti bersekolah," terangnya. (sumber: tribunenews.com)

Minggu, 07 Mei 2017

Kisah Pelari Malang Pecahkan Rekor Lari 27K di Rinjani 100



Kaca mata dan ikat kepala hitam menyertai Akhmad Nizar mencapai garis finish pertama lari gunung atau "trail running" kategori 27 kilometer di acara Rinjani 100, Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggaa Barat, Sabtu (6/4/2017).
Pemuda berusia 24 tahun ini memecahkan rekor catatan waktu di kategori 27K. Nizar membubuhkan waktu 04:05:56, lebih cepat dibanding catatan waktu kategori 27K di Rinjani 100 tahun 2016 yakni 04:41:01.
Namun, siapa sangka, butuh lima tahun lebih bagi Nizar untuk bisa memiliki stamina dan kemampuan trail running.
Nizar terjun ke olahraga lari bukan tanpa sebab. Mantan pemain bola ini dulu memiliki stamina buruk. Bahkan pelatih sepakbola Nizar meminta dia berhenti dari sepakbola. Pelari dari Run Malang Run ini pun tak patah semangat. Dia mulai melatih stamina dengan olahraga lari.
"Setelah ikut olahraga lari ini saya jadi tertarik," kata Nizar kepada Kompas Lifestyle di Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Sabtu.
Nizar mulai latihan empat kali dalam satu pekan. Setiap kali lari dia menempuh jarak lima hingga sepuluh kilometer. Latihan itu rutin dilakukan Nizar dan membuahkan hasil. Stamina fisik dia mulai meningkat. Sejumlah lomba lari pun dia ikuti seperti Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 2016 pada kategori 30 kilometer.
"Alhamdulillah di BTS Ultra 30K juara satu," kata Nizar yang baru lulus kuliah dari Teknik Industri Universitas Brawijaya.
Setelah ini, pemuda asal Jember  Jawa Timur ini akan kembali mengikuti BTS Ultra tahun 2017. Dia berharap bisa menang kembali lomba lari kelas internasional tersebut. (sumber: kompascom)

Sabtu, 06 Mei 2017

Kisah Petani Karawang, Muhammadiyah dan Presiden Jokowi



Perjalanan Garut-Jakarta melelahkan. Macet.
Getar Telpon Genggam mengganggu tidur dalam laju mobil kendaraan.
Oh Panggilan masuk dari aktivis LBH Jakarta.
"Mas Dahnil, bisa bantu 220 petani Karawang yang butuh tempat penampungan Mas? Kami berharap bisa ditampung Muhammadiyah"

Nah lho. Saya terdiam. Memandangi si Kholis, Bendum PP IPM yang jadi Supir kami saat itu, dan si Putra, Bendum PPPM yang lagi makan Dodol Garut di kursi belakang. Abrar, Ketua PPPM yang terdengar mendengkur dalam tidur pendeknya. Bujang lapuk yang sekarang tak lapuk lagi.

"Tunggu ya, Saya coba". Jawab ku.

Saya berdiskusi dengan Kholis, Abrar, Putra dalam laju mobil menuju Jakarta. "Tampung aja bang, kata Putra". "Tampung di PP Muhammadiyah?" Lanjut ku. "Emang punya kita?. Kita ndak punya wewenang mengizinkan atau tidak". Sedangkan ini harus cepat.

Getar Telpon genggam lagi. Ternyata dari Farid, Salah satu Sekretaris PPPM. Farid intens mendampingi petani Karawang bersama istrinya sejak lama. "Bang, petani Karawang ini butuh tempat, mereka gak tahu mau kemana lagi. Bagaimana bang?"

Akhirnya Saya jawab " Mas Farid, ya Sudah di Gedung Dakwah Ada Cak Faisal, Ajak dia pimpin 220 petani itu ke Gedung Dakwah Muhammadiyah, kan ini waktu shalat maghrib, jadi Masuk saja ke Gedung Dakwah kemudian menuju masjid, Bilang saja mau shalat Maghrib berjamaah, setelah itu istirahat sambil menunggu shalat Isya, kemudian istirahat lagi Sambil menunggu shalat shubuh dan seterusnya, sampai gak mau shalat di masjid itu lagi. Paham ya maksud Saya". "Paham bang" kata Farid. " Tapi bang, mereka lapar semua, belum makan sejak pagi" "Ok, kita atur" kata ku.

Jadilah, petani dipimpin Cak Faisal, Farid dan kawan-kawan  LBH serta relawan-relawan lainnya menuju Gedung Dakwah Muhammadiyah. Ternyata di perjalanan mereka diberhentikan oleh Polisi, tidak boleh menuju ke Muhammadiyah, akhirnya Cak Faisal bernegoisasi, dan perjalanan dilanjutkan. Tiba di depan gerbang Muhammadiyah, Menteng Raya 62. Ternyata di Gedung Dakwah sudah dipenuhi dengan Polisi. Usut punya usut, ternyata sedang ada acara Maarif Institute yang meminjam Gedung Dakwah Muhammadiyah dengan mengundang Menko Kemaritiman menyampaikan Pidato bersama Buya Syafii Maarif, tentang Kebhinekaan atau keberagaman mungkin.

Akhirnya, para petani yang dipimpin Mas Farid dan Cak Faisal, dilarang Masuk. Cak Faisal, Ketua Bidang Hukum PPPM Hasil ressuflle ini, bersitegang dengan Polisi, yang akhirnya petani boleh masuk menuju Masjid, namun bertahap.

Pemuda Muhammadiyah mau masuk ke rumah sendiri kok diatur oleh tamu dan penjaganya.:.hehehehe. Tapi, Wes lah ora opo-opo.

Selanjutnya, dalam perjalanan, Saya menelpon Mas Fuji, Kepala Kantor PPPM untuk membelikan makanan sebanyak 250 bungkus. "Bang, uang kas lagi gak ada" nah lho. Putra, bendahara umum PPPM, mengatakan. Iya bang, belum dicairkan yang untuk petty cash. Aduuuh. Terus bagaimana?. "Saya Suruh Fuji pesan aja ya bang?". Nanti kita bayar. "Ok" pungkas ku.

Kami tiba di Gedung Dakwah Muhammadiyah, wow, banyak Polisi ternyata. Tapi, dalam Rangka mengawal Menko Maritim yang sedang ceramah tentang Kebhinekaan di acara Maarif Institute bersama Buya Maarif. "Pasti diskusi yang menarik". Gumam ku. Namun, Saya dan kawan-kawan memilih berjalan ke masjid menemui 250 petani Karawang yang sudah menumpuk di Masjid. Dan, ternyata makanan yang dibeli Fuji belum tiba. Akhirnya, kami kebetulan membawa banyak Dodol Garut, buah tangan yang diberikan Pak Atok, pemilik pabrik Dodol picnic Garut. Semua Dodol itu kami serahkan kepada petani sebagai pengganjal lambung, sampai tiba nasi bungkus.

Singkat cerita. PP Muhammadiyah, mengizinkan Petani Karawang untuk tinggal sementara di Gedung Dakwah Muhammadiyah, dan kemudian memindahkan penampungan mereka ke Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang. Kurang lebih 2 bulan mereka menetap di sana dengan bantuan banyak relawan, baik dari Ortom Muhammadiyah, Rumah Sakit Muhammadiyah, sampai organisasi di luar Muhammadiyah. Banyak relawan yang tidak bisa Saya sebutkan satu-satu namanya. Ruhul Ikhlas dan Jihad selalu hadir di hati mereka.

Dua hari jelang Pillada DKI Jakarta, Saya bersama beberapa Tokoh Islam diundang Bapak Presiden Joko Widodo di Istana Presiden. Pada Pertemuan tersebut, salah satu hal yang disampaikan Pak Presiden adalah terkait dengan Redistribusi Lahan. Nah, Tiba Saya berbicara, Saya menyampaikan kepada pak Presiden.

"Pak Presiden, program redistribusi lahan adalah program yang bagus sekali, pro mustadafin, dan kami mendukung penuh. Termasuk keinginan Pak Presiden meminta ormas bisa juga memamfaatkan program ini untuk kepentingan jamaah masing-masing. Namun, Pak Presiden izinkan saya menyampaikan, Muhammadiyah sejak awal berdiri ingin memastikan menghadirkan Islam yang menjadi solusi bagi kehidupan, Islam untuk orang hidup bukan Islam untuk orang mati. Sekarang ada 250 petani Karawang yang kami tampung kehilangan tanah mereka, maka mohon dahulukan mereka, Muhammadiyah tidak juga tidak Apa. Asal mohon selesaikan masalah petani Karawang ini"

Beberapa hari kemudian, Pak Mensesneg Pratikno bertemu dengan Saya dan menyampaikan bahwa Presiden Akan menuntaskan masalah Petani Karawang tersebut.

Kemarin, tepat 6 Mei, Pak Pratikno mengirimkan pesan WA singkat kepada Saya, " Mas, masalah petani Karawang sudah diselesaikan Pak Presiden dengan maksimal ya".

Betul, Pak Presiden memerintahkan Menteri Pertanahan dan Menteri Sosial untuk menyelesaikan segera. Petani dijanjikan Menteri Pertanahan Akan kembali ke lahannya dan akan dibuatkan sertifikat dalam jangka waktu 2 Bulan ke depan. Mensos Khofifah pun berjanji selama waktu menunggu lahan dan sertifikat tersebut para petani Akan diberikan uang bantuan perbulan.

Para petani menolak kembali ke Karawang, bila ditampung di Rumah Susun yang pernah mereka tempati dan akhirnya diaabaikan oleh Pemkab Karawang. Akhirnya, Menteri meminta Bupati, agar petani ditampung sementara di Rumah Dinas Bupati.

Alhamdullilah, Akhirnya Siang ini (Sabtu/6 Mei 2017) Petani Karawang Akan kembali ke penampungan sementara mereka di Rumah Dinas Bupati sessuai janji. Mudah-Mudahan ditepati oleh pemerintah seperti yang mereka sampaikan kepada kami.

Tadi malam (Jum'at/ 5 Mei 2017), para petani Karawang datang ke pengajian rutin PP Muhammadiyah dan berpamitan langsung ke Pak Haedar dan PP Muhammadiyah.

Tengah malam tadi, mereka juga berpamitan dengan Saya untuk kembali ke Karawang, bahagia dan haru bercampur aduk. Ditambah lagi yang lebih mengharukan, Kang Maman dan petani Karawang mengatakan kepada Saya " Bang Dahnil, Nanti kalau kami sudah kembali dapat lahan, kami akan undang Bang Dahnil untuk meresmikan Ranting Muhammadiyah Teluk Jambe yang akan kami dirikan bersamaan dengan tanah wakaf untuk Masjid Muhammadiyah di Teluk Jambe nanti". Saya tidak bisa menahan haru untuk bagian ini. Bagi Saya tidak ada yang lebih membahagiakan selain, semangat baru menggembirakan Dakwah Muhammadiyah melalui lahirnya Ranting Muhammadiyah dari petani-petani yang ketika pertama kali datang ke Saya dituduh PKI itu.

Terimakasih Pak Presiden atas kepekaannya, semoga Pak Presiden sehat selalu, dan bisa berpihak kepada Rakyat miskin pada semua kebijakan yang bapak buat, dan menolak tunduk dengan para bandit yang rakus.

Salam
Dahnil Anzar Simanjuntak (Anin)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah⁠⁠

Kisah Penata Rambut New York Berkeliling Mencukur Orang Miskin dan Gelandangan


Seorang penata rambut dari sebuah salon terkenal di New York City, Mark Bustos sekaligus merupakan seorang dermawan.
Tarifnya adalah mulai 150 dolar Amerika Serikat (AS) atau hampir Rp 2 juta untuk sekali potong rambut di butiknya.
Meski punya pelanggan setia dan bertarif lumayan mahal, Bustos selalu libur, setiap Minggu.
Ternyata apa yang dilakukan begitu mengagumkan.
Dialnsir Tottaly Amazing, yang dikutip Warta Kota (Tribunnews.com Network) Sabtu (6/5/2017).
di satu hari itu, Bustos meluangkan waktunya untuk keliling New York City.
Bustos khusus mencari tunawisma dan orang-orang miskin, yang tidak pernah punya cukup uang untuk mencukur rambut mereka yang tumbuh tidak beraturan.Kalau kebetulan berada di New York City di Hari Minggu dan mendapati seorang pria mencukur gelandangan atau orang miskin, namanya Mark Bustos.
Dia melakukan semuanya secara sukarela dan gratis meski seharusnya, pelanggan harus membayar hampir dua juta untuk bercukur di salonnya. (sumber: tribunenews.com)

Kamis, 04 Mei 2017

Kisah Fotografer Singapura Digigit Komodo di Kelurahan Komodo



Nasib nahas dialami Loh Lee Aik (68). Fotografer asal Singapura ini digigit komodo  di Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (3/5/2017).
“Wisatawan asing asal Singapura yang juga adalah fotografer ini digigit oleh seekor komodo di wilayah pegunungan atau sekitar 200 meter dari arah Pustu Desa Komodo,” kata Kepala Bidang Humas Polda NTT AKBP Jules Abraham Abast kepada Kompas.com, Rabu (4/5/2017) malam.
Jules menjelaskan kronologi peristiwa tersebut. Menurut dia, kejadian itu bermula ketika pada Senin (1/5/2017), Loh berangkat dari Labuan Bajo (ibu kota Kabupaten Manggarai Barat) menuju kampung Komodo dan menginap di rumah warga masyarakat bernama H Kasing, dengan tujuan untuk mengumpulkan foto aksi komodo.
Kemudian, pada Selasa 2 Mei 2017, saat Loh berjalan-jalan mengelilingi Kampung Komodo tersebut, ia melihat ada seekor kambing yang digigit oleh seekor komodo di kompleks Pekuburan Umum dekat Pustu Desa Komodo, namun dia tidak sempat mendokumentasikannya.
Selanjutnya, Loh mendapatkan informasi dari warga setempat bahwa apabila sudah ada kambing yang digigit komodo dan kemudian mati, pasti komodo akan turun dari gunung untuk memangsa kambing yang sudah mati itu.
Setelah itu keesokan harinya yaitu Rabu 3 Mei 2017 Sekitar pukul 08.00 Wita, Loh datang ke tempat bangkai kambing yang telah mati di pegunungan sekitar 200 meter dari arah Pustu Desa Komodo tanpa didampingi ranger atau warga masyarakat untuk melakukan pengambilan gambar.
“Setelah sampai di lokasi kejadian, korban (Loh) melihat seekor komodo sedang memangsa seekor kambing, sehingga korban pun berusaha untuk mengabadikan momen tersebut. Namun korban tidak tahu ada seekor komodo kecil yang berada di sekitar korban yang kemudian langsung menggigit betis kaki bagian kiri hingga mengalami luka robek,” kata Jules.
Kemudian sekitar pukul 08.30 Wita, masyarakat memberitahu Bhanbinkamtibmas Desa Komodo yakni Bripka Anhar bahwa ada orang yang digigit komodo.
Anggota polisi  itu yang dibantu warga langsung melakukan pertolongan terhadap dan mengevakuasi korban ke Pustu Desa Komodo untuk dilakukan pertolongan pertama dengan melakukan jahit di lukanya dan diberikan anti biotik.
“Setelah itu Bhabinkamtibmas Bripka Anhar dibantu warga, lalu mengantarkan korban ke perahu milik nelayan setempat untuk dibawa menuju Labuan Bajo guna pengobatan selanjutnya. Di tengah perjalanan, korban dijemput oleh Tim Basarnas dan Pos AL agar lebih cepat sampai Labuan Bajo untuk dibawa menuju Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo,” ucapnya. (sumber: tribunenews.com)

Rabu, 03 Mei 2017

Kisah Dibalik Pencalonan Anies Baswedan



Perhelatan Pilkada DKI Jakarta telah usai, pasangan Anies Baswedan - Sandiaga Uno telah memenanginya. Siapakah sebetulnya dibalik nama Anies Baswedan tersebut, padahal sebelumnya nama itu belum muncul dan tiba-tia muncul menjelang pendaftaran paslon dibuka KPU DKI Jakarta. 
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan  bercerita soal mengapa sosok Anies Baswedan dipilih untuk diusung sebagai calon gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
Mulanya, kata Zulkifli, tak ada partai yang mau mengusung Anies.
Sosok Yusril Ihza Mahendra lah yang sempat digadang untuk diusung enam partai, yakni Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Gerindra, dan Partai Keadilan Sejahtera. 
Sedangkan Sandiaga Uno menjadi calon wakil gubernurnya.
"Dulu terus terang, saudara Anies itu tidak ada yang mau. Ini saya buka rahasianya," kata Zulkifli saat membawakan keynote speech dalam seminar nasional kebangsaan Gerakan Muballigh dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/5/2017).
"Calon itu Yusril, Sandi, sudah. Dihitung-hitung enggak menang. Sampai jam 12 malam sebelum pendaftaran. Maka dicarilah kesepakatan enam partai itu," sambung dia.
Sosok Pengusaha Chairul Tanjung pun sempat dibidik. Namun Chairul menolak karena bisnisnya tengah susah.
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono  pun menyodorkan nama Agus Harimurti Yudhoyono.  
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sempat menyanggupi tawaran tersebut. Namun dengan syarat Sandiaga sebagai calon gubernurnya.
Sebab, Sandiaga sudah lama bergerak untuk maju ke Pilgub DKI.
Namun, pada Pukul 21.00 WIB sebelum pencalonan calon gubernur dan wakil gubernur, Sandiaga mendatangi kediaman Zulkifli di Widya Chandra untuk menyatakan kesediaannya menjadi calon wakil gubernur untuk Agus.
"Waktu itu dia bilang enggak apa-apa saya jadi wakil tapi pertemukan Pak Prabowo dengan Pak SBY," tutur Zulkifli menirukan pernyataan Sandiaga saat itu.
"Nah, saya tahu kalau Pak Prabowo, Pak SBY ketemu mesti ada jaminan lima tahun selesai. Kira-kira itu isinya. Sehingga tak jadi ketemu, sudah putus AHY. Di sini ya sudah Sandi sama Mardani (Ali Sera)," sambung Zulkifli.
Di situ lah peta politik berubah. Prabowo akhirnya menyetujui  Anies sebagai calon gubernur. Itu, ujar Zulkifli, atas intervensi Wakil Presiden Jusuf Kalla.
"Jam 12 malam sampai jam 1 pagi itu ada intervensinya Pak JK. Saya kan suka terus terang. Pak JK boleh enggak ngaku, saya dengar kok teleponnya. Pak JK lah yang meyakinkan sehingga berubah lah," ucap Ketua MPR RI itu.
Namun, saat itu pihak SBY sudah terlanjur mau mengumumkan akan mengusung AHY dan Sylviana Murni. Sehingga pihak SBY dan Prabowo tak berada di satu koalisi.
Namun, kesepakatan tetap dibangun antara partai pengusung Anies-Sandi  maupun partai pengusung AHY-Sylvi bahwa harus ada perubahan di Jakarta.
"Karena kami enggak sanggup gubernur yang gaduh terus, sudah enggak sanggup dah. Orang Betawi bilang udah enggak tahan dah. Jadi sepakat kita mesti ada gubernur baru," ucap Zulkifli.
"Jadi kalau kami menang, yang sana gabung. Kalau sana menang, kami yang gabung. Janji laki-laki," tuturnya. (bpp/kpsc)

Senin, 01 Mei 2017

Kisah Seorang Ibu yang Kehilangan Keluarganya Dalam Banjir Bandang Grabag Magelang



Sore itu hujan lebat turun membasahi bumi, memang sejak siang langit mendung tebal, dan aku baru saja selesai memandikan putri cantikku yg berusia 16 bulan.

Suamiku masih di masjid, mungkin beliau menanti hujan reda. Memang, anak pertamaku sedang giat2nya mengikuti abinya ke masjid lima waktu, meski baru berumur tiga tahun tetapi semangatnya sungguh luar biasa.

Kira2 dua jam hujan lebat terus mengguyur bumi, sampai tiba2 aku mendengar suara gemuruh yg sangat keras. Segera aku keluar rumah, tapi tidak ku lihat apapun kecuali langit gelap sekali. Apakah merapi meletus? Yaa ALLAH..

Aku pun kembali masuk ke dalam rumah, ku lihat puteri mungilku tertidur di ruang depan. Sampai...

Datanglah air bah yg langsung merobohkan rumahku, aku tidak ingat apapun, puteri mungilku hilang tanpa bersuara.. Aku tergulung air, sampai jauh, terdampar di bawah pohon yg cukup jauh dari rumahku..

Aku berusaha bangun, tapi kedua kakiku tidak bisa digerakkan.. sakit, dan akhirnya aku dengar orang2 mendatangiku, mereka menolongku..

Tetapi... kemana puteriku? Yaa ALLAH, aku ingin menggendongnya..

Sejenak aku menenangkan diri, lalu aku teringat suami & anak pertamaku, ooh mereka masih di masjid tadi..

Sayup2 aku mendengar orang2 bercerita, kalau rumahku rata dengan tanah.. dan masjid pun disapu banjir bandang.. Yaa ALLAH, suami & anak pertamaku gimana nasib mereka?

lalu aku pingsan, lemah badan ini, lemas perasaanku, Hasbunallahu wanikmal wakiil.. Aku belum siap menerima semua ini, tetapi kalau memang suratan takdirku begini, aku akan menjalaninya dengan sekuat batinku..

Yaa ALLAH, ampuni salahku.. ampuni salah suamiku.. ampuni salah kami semua.. jikalau dunia ini begitu singkat menyatukan kami, izinikan kami berkumpul di jannah-Mu.. (Tulisan bidan aryati...yg kehilangan 2 putra dan putrinya, suami dan pengasuhnya)